Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2015

Presiden Termiskin di Dunia

Josef Mujica mungkin tergolong manusia langka. Sudah memikirkan negara, dia tak mau menerima gajinya secara penuh. Dia malah menyumbangkan 90 persen dari gajinya untuk fakir miskin. Hidup pria ini sungguh sederhana. Rumahnya di tengah peternakan bobrok.

Baju-baju yang habis dicuci tergantung tak karuan di halaman berumput liar. Hanya dua polisi yang berjaga yang menandakan pria itu orang penting. Selain ada juga Manuela, anjing berkaki tiga yang setia. Inilah Presiden Uruguay, Jose Mujica. Gaya hidupnya memang tak seperti politisi kebanyakan. Apalagi pemimpin negara-negara lain yang lebih senang hidup bermewah-mewah. Yang tentu saja menghabiskan berjuta bahkan bermiliar uang negara.

Mujica memang beda dengan pemimpin negara lainnya. Dia menolak rumah dinas yang disediakan negara. Padahal rumah pemerintah itu tergolong mewah, yang jelas nyaman untuk hidup sebagai presiden. Tapi dia malah memilih tinggal di rumah istrinya yang hanya berjalan tanah di luar ibukota Uruguay, Montevideo.

Bersama istrinya, Mujica mengerjakan tanah mereka sendiri. Bunga-bunga tumbuh di pekarangan rumah sederhana. Air yang mereka gunakan sehari-hari pun berasal dari sumur di halaman. Bukan air pasokan perusahaan air minum seperti di kota-kota. Mujica mungkin tergolong manusia langka.

Sudah memikirkan negara, dia tak mau menerima gajinya secara penuh. Dia malah menyumbangkan 90 persen dari gaji bulanannya, atau sekitar Rp 138.972.000, untuk amal-amal. Karena gaya hidup inilah dia mendapat julukan presiden termiskin di dunia. “Saya mungkin terlihat seperti pria tua yang eksentrik. Tapi inilah pilihan,” kata Mujica dikutip Dream dari laman BBC.

“Saya sudah hidup seperti ini hampir seluruh hidup saya. Saya bisa hidup dengan apa yang saya punya," kata dia sambil duduk di sebuah kursi tua di kebunnya. Dengan hanya menerima 10 persen gaji, berarti per bulan Mujica hanya menerima penghasilan sekitar Rp 8,9 juta saja. Jumlah tersebut sama dengan rata-rata penghasilan warga Uruguay.

Sementara yang 90 persen dia dermakan untuk pengusaha kecil dan fakir miskin. Laporan harta kekayaan pejabat negara Mujica empat tahun silam hanya sekitar Rp 20,8 juta. Harta itu merupakan nilai dari mobil tua miliknya, Volkswagen Beetle keluaran 1987.

Pada tahun ini, dia menambahkan setengah dari aset istrinya dalam laporan harta pejabat negara. Harta itu berupa tanah, traktor, dan rumah yang nilainya mencapai Rp 2,4 miliar. Jumlah itu tidaklah banyak untuk ukuran pejabat Uruguay.

Kekayaan Mujica hanya dua pertiga harta Wakil Presiden Danilo Astori dan hanya sepertiga dari kekayaan mantan Presiden Tabare Vasquez. Mujica terpilih pada 2009. Pada tahun 1960-an dan 1970-an, dia menghabiskan waktunya dalam laskar gerilya Tupamaros, sebuah kelompok bersenjata sayap kiri yang terinspirasi oleh revolusi Kuba. Pada zaman itu, dia ditembak enam kali dan menghabiskan 14 tahun penjara.

Selama ditahan, dia mengalami penyiksaan dan terisolasi, sampai dia dibebaskan pada tahun 1985, ketika Uruguay kembali ke masa demokrasi. Pria kelahiran 20 Mei 1935 itu menambahkan, masa-masa di penjara itulah yang telah membentuk pandangan hidupnya.

“Saya disebut 'presiden termiskin', tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba memelihara gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin berlebih-lebihan,” katanya. Menurut dia, pilihan hidup ini merupakan masalah kebebasan.

“Jika Anda tidak memiliki banyak harta, maka Anda tidak perlu bekerja sepanjang hidup Anda seperti seorang budak untuk mempertahankan mereka, dan karena itu Anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri,” tambah dia. Tak hanya di dalam negeri. Mujica juga menunjukkan kehidupan bersahaja saat bergaul dengan presiden-presiden negara lain.

Dalam berbagai forum dunia, dia selalu memperjuangkan nasib negara miskin. Dia juga sangat peduli dengan kelangsungan lingkungan. Mujica menuding para pemimpin dunia memiliki "obsesi buta untuk mencapai pertumbuhan dengan konsumsi, seolah-olah sebaliknya akan berarti akhir dari dunia." (dream.co,id)


kata kata yang bisa di petik dari cerita di atas :
“Saya disebut 'presiden termiskin', tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba memelihara gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin berlebih-lebihan,” katanya. 

Kamis, 01 Januari 2015

Cinta Tanpa Price Tag

Pada suatu sore pertengahan Desember, saya berjalan menuju ruang kelas di mana mahasiswa-mahasiswa di program S2 Media dan Komunikasi Fisip Universitas Airlangga telah menanti. Waktu itu hujan rintik. Sebelum sampai di gedung tempat kelas, saya terkesiap ketika memandang ke arah kanan.
Tempat dimana ada gerobak sampah. Dia, seorang tukang kebersihan yang tua, sedang mencurahkan kasih sayangnya. Lembut dan perhatian, dia menyuapi tiga ekor kucing dengan sisa susu kental manis yang ditemunya diantara sampah.
Tukang kebersihan itu khusuk. Tak peduli hujan rintik memukul tubuh keringnya. Dia mencurahkan perhatian pada tiga kucing yang sedang terlihat lapar. Tukang kebersihan tua itu membuka kaleng susu kental manis dengan payah. Beberapa kali congkelan besi kecil di tangannya akhirnya berhasil membuka lebih lebar kaleng susu tersebut.
Sang tua tukang kebersihan segera menuangkan tetes susu manis tersebut ke dekat dua kucing berbulu putih. Lalu, manja sekali kucing-kucing itu menikmatinya. Sedangkan hujan makin rintik, angin melempar dingin ke setiap penjuru. Saya menggigil. Namun, melihat sang tua yang begitu cinta, saya makin menggigil.
Saya melihat kemegahan cinta di antara tumpukan sampah, bau asam dan lendir sisa-sisa makanan. Ini bukan hal remeh. Sebab tidak setiap insan mampu melakukannya. Hanya terhadap binatang liar, ia seperti mengabdi tanpa beban. Hati kecil bertanya, kepada siapa dia sang tua tukang kebersihan itu sesungguhnya mengabdi?
Jika dia mengabdi kepada kucing semata, tentu tidak mungkin. Sebab kucing tidak akan memberinya balasan materi. Sepertinya halnya banyak bawahan, pejabat pemerintahan, perusahaan atau organisasi rela mengabdi kepada atasan agar teruntungkan dari segi apapun. Akan tetapi itu adalah pengabdian semu, palsu. Pengabdian yang bersandiwara. Sebab memiliki harga, memiliki price tag. Sedangkan sang tua tukang sampah tersebut tidak akan memberi price tag pada pengabdiannya.
kemegahan cinta
Foto @novrisusan
Sang tua tukang kebersihan sampah, dalam tafsir saya, sedang mengabdi pada cinta, pada sebentuk kasih sayang paling murni. Yaitu cinta yang tak berharap meminta kembali, namun cinta yang memancar dan memberi. Seperti halnya para salih yang sangat dekat dengan cahaya Tuhan. Sang tua ini, bagi saya adalah kemegahan cinta itu sendiri.
Bagaimana dengan para pemimpin politik, pejabat dan insan-insan yang memiliki sumber kekuasaan? Apakah mereka bisa mengabdi karena memiliki kemegahan cinta dalam rumah hidupnya? Jika ya, mengapa masih saja ditemukan para pejabat korup, pejabat yang abai pada insan-insan tidak mampu. Atau pemilik modal ekonomi besar yang lebih berat memikirkan cara akumulasi profit dan kekayaannya sendiri.
Begitu pun diri ini, berkaca pada sang tua tukang kebersihan sampah. Apa benar selama ini telah mengabdi tanpa price tag, tanpa harapan akumulasi profit? Ah pertanyaan ini benar-benar menyudutkan, memancing ego mencari pembenaran.
Sobats, cinta tanpa price tag ini sudahkah menjadi bagian dari kehidupan kita? (sang chef-Novri Susan)

@sumber : http://novrisusan.com/2014/12/19/cinta-tanpa-price-tag/

video microsoft office word How To Convert a Word documents to PDF NOW

microsoft office word 2007 how to Save as PDF format. microsoft office word How To Convert a Word documents to PDF Video's was published...